Kata merdeka tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat umum baik itu mendefinisikan secara universal ataupun individual. Para pekamus umumnya sepakat bahwa kata “Merdeka” berasal dari bahasa sangsekerta yaitu “Maharddhikeka”. Elisa Sutan Harahap menyerapnya menjadi “Merdeheka” yang artinya orang sholeh, pandai agama, diketahuinya yang akan jadi sesudah mati. (G.Kolff & Co., Bandung, 1951).
Peorwodaminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya. Bediri sendiri, tidak terikat, tidak bergantung pada sesuatu yang lain, lepas dari tuntutan (PN Balai Pustaka, Jakarta, 1966).
Sungguh menarik jika kita berbicara merdeka, namun merdeka bisa dimaknai bagi individu dan kelompok. Menurut Prof. Driyakera salah satu tokoh pemikir besar Indonesia memaknai kata merdeka “subjek yang merdeka itu harus mempunyai kekuasaan untuk menguasai diri sendiri dan perbuatannya. Tentu saja kemerdekaan tidak sama dengan keliaran, sebab kemerdekaan bagi seseorang tidak boleh berlawanan dengan kodrat kemanusiaan.”
Dengan beberapa devinisi diatas menganai merdeka bagi individu, coba kita pertanyakan kepada diri kita. Sudahkah diri ini merdeka? Yang bebas dari penghambaan, penjajahan, lepas dari belenggu dan tidak bergantung kepada sesuatu yang lain.
Faktor penyebeb sehingga sulit merdeka bagi individu yaitu nafsu. Dengan nafsu seseorang tidak memiliki kekuasaan untuk menguasai dirinya sendiri, bukan berati manusia harus menghilangkan nafsu terlebih dahulu untuk bisa merdeka diri.
Manusia sejatinya hanyalah seorang budak dengan kepemilikan tuannya namun realita saat ini masih saja yang banyak tidak memahaminya dan hanya sekdar tahu sehingga tidak bisa memposisikan dirinya menjadi “Abid” (Pelayan) terhadap “Ma’bud” (Tuannya / Pencipta). Yang mengerjakan sesuatu dengan keinginan dirinya sendiri bukan atas perintah-Nya, sudah sangat bertentangan jika disandingkan dengan realita saat ini.
Nafsu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu keinginan, kecenderungan dan dorongan. Dan nafsu adalah anugrah yang diberikan oleh Allah (Sang Pencipta) untuk mahluknya (Manusia), namun nafsu tidak akan menjadi anugrah ketika seseorang tidak bisa menguasainya.
Dalam Quran dijelaskan tentang nafsu itu sendiri Allah SWT berfirman : “Hai jiwa jiwa yang tenang!. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridhoi-Nya” (Q.S Al-Fajr 27-28).
Nafsu Muthmainnah, yaitu sifat jiwa yang memperoleh ketenangan sehingga orang yang memiliki sifat dirinya akan selalu merasa ketentraman kedamaian tidak bergantung kepada sesuatu yang lainnya, senantiasa mendekatkan diri dengan kerendahannya. Tidak mengedepankan ego dalam setiap tindakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar