Tentu tidak asing lagi dengan kata iman, apalagi teruntuk mereka yang meyakini atau memeluk islam. Namun ringkas sekali masyarakat pada umumnya memahami perspektif iman, sehingga bukan kemajuan yang dimiliki, akan tetapi diam di tempat atau bahkan kemunduran bagi individu, yang meluas menjadi kelompok dan bahkan berbangsa. What is wrong?
Hemat penulis, masyarakat pada umumnya seperti mempunyai sebuah barang yang tidak tahu bagaimana cara pemakaiannya, jadi hanya sebuah asumsi tanpa implementasi. Pentingnya reparasi terhadap ini, guna meningkatkan kualitas seorang mikmin dan muslim.
Pada umumnya definisi dari kata iman adalah percaya dan yakin. Namun secara bahasa tashdiq adalah (membenarkan) dan secara istilah syar’i adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melakukan dengan perbuatan. Tiga dari pada unsur ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, andai kata satu diantara tiga ini hilang, perlu dikoreksi lagi perihal iman nya.
Kepercayaan semestinya kita pahami secara mendalam, akan tetapi kita terbatas oleh rasio kita yang sudah full segitu. Maka sebagian dari pada itu kita serahkan kepada iman, jadi masalah iman itu adalah bagian dari pada hidup dan itu adalah kewajiban dari pada rasional kita. Jika ada seseorang dari Jawa menuju Sumatera menggunakan kapal laut, dia sudah menyalahi prinsipnya. Karena sesuai asumsinya yang harus paham betul. Kalau dia dari Jawa menuju Sumatera menggunakan kapal, dia harus paham keseluruhan yang ada di kapal tersebut. Termasuk bagaimana kapal dibikin, bagaimana menjalankan pengoprasian mesin, bagaimana kompasnya dan ini itu sebagainya. Kalau begitu ketika dia menginjakan kaki di pelabuhan, itu kan sudah ada masalah iman. Dia percaya kepada nahkoda, percaya kepada yang membuat kapal ini tidak akan tenggelam lalu dia tenggelam. Percaya, percaya dan semua deretan dari pada kepercayaan.
Sedikit sekali yang dia ketahui tentang kapal , paling-paling mengetahui cara pembelian tiketnya, itupun tidak tahu bagaimana cara membuat tiketnya. Seandainya dia konsisten terhadap prinsip yang memang harus seluruhnya memahami betul perihal kepercayaan, dia seharusnya dari Jawa menuju Sumatera itu berenang. Sebab dengan berenang itu yang paling memungkinkan dengan usaha yang bisa ditempuh. (Drs. H. Solichin, 2010: 227)