”Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Q.S Al-A’raf : 179)
Terpatri dengan pernyataan firman Allah diatas sungguh neraka jahannam banyak terisi oleh golongan jin dan manusia. Yang enggan memfungsikan anggota tubuhnya, salah satunya adalah pancaindra. Dimana pancaindra itu sendiri merupakan sarana utama untuk memahami firman Allah yang tertuang dalam Al-Quran.
Dengan penciptaanya Allah sempurnakan teruntuk manusia dari segala aspek, dibandingkan dengan mahluk ciptaan Allah yang lainnya. Namun sayang, tidak sedikit juga manusia memahami esensi dari seluruh anggota tubuhnya yang Allah berikan, akan berujung pada kebelengguan yang tidak tesadarkan.
Maka Allah sebut mereka dengan orang-orang yang lengah. Maksudnya lengah, mereka tidak amanah terhadap dirinya sendiri yang memfungsikan dirinya sesuai keinginannya sendiri, seperti hidup tanpa aturan yang mengikat.
Maksud dari manusia seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi, menurut kacamata penulis, kalimat tersebut adalah pengibaratan dari sebuah kejadian yang menjadikannya manusia seperti itu (binatang ternak). Coba kita perhatikan bagaimana kehidupan binatang-binatang ternak, kesehariannya seperti apa, dan kebiasaannya bagaimana. Sudah pasti hanya memperhatikan “Perut dan bawah perut” artinya memperpanjang hidup dan perkembangbiakan keturunan. Hanya sebatas itulah kepentingan bianatang ternak pada umumnya.
Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja. Begitulah kutipan bermakna dari Buya Hamka, tokoh cendikiawan muslim Indoneisa. Jadi hemat penulis, harus ada pembeda antara kultur manusia dengan hewan. Jika kita kenal, hewan tidak memiliki aturan hidup. Beda dengan manusia yang memiliki.
Jika dilihat dari bentuk penglihatan, bentuk hewan dan manusia itu sama, sama-sama diberikan anggota tubuh. Namun beda dari segi perwujudan. Yang menjadi pembeda lainnya adalah manusia diberikan akal, dimana akal ini jika difungsikan dirinya akan sadar sehingga sinkron dan berkesinambungan dengan potensi yang dimiliki, dari anggota tubuh. Dengan sadarnya, manusia akan menumbuhkan aturan terhadap dirinya, maksudnya aturan dalam lingkup menjauhkan dari hal-hal negatif, mengetahui parameter baik dan buruk, luasnya menjadi bentuk simpati. Yang akan menceriminkan ke-manusiaannya terhadap orang lain, mempunyai sikap lebih bermoral dan berakhlak, itu akal sehat.
Beda dengan akal buruk, dimana manusia menggunakan akalnya mengarah kepada keburukan, kejahatan, dan selebihnya yang tercangkup dalam larangan Tuhan-Nya. Inilah yang disebut “lebih sesat dari dari binatang ternak”. Wajar saja hewan melakukan sesuatu hal yang memang jauh daripada bentuk keharusnnya, karena tidak diberikan akal, perihal ini sangat tidak wajar terhadap manusia.
Menurut TafsirAl-Jalalain “lebih sesat dari binatang ternak” yaitu sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya, tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya kedalam neraka dengan menentang.
Ringkas penulis, manusia yang sudah mengetahui tentang perintah-Nya tetapi tidak menjalankan terhadap perintah-Nya. Seakan manusia itu sendiri menyuguhkan dirinya kedalam neraka dengan cara menentang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar